Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘cinta’

Geuning
manehna katipu deui

Rumah tangga mang taun-taun
kalah teu ngahasilkeun anak.

Bandung, 2008

Iklan

Read Full Post »

Disini aku berdiri
Beribu baris, bergaris-garis
Membentuk lapisan uzur

Sayatan pandang
Melingkar semata angin
Terarah tajam
Keinti ruang

Disini aku berdiri
Memantulkan lempengan cahaya
Yang menebar kearah semata angin

Menajamkan ingatan
Akan sesuatu lelah dikekang
Seiring bergantinya cahaya
Yang gemerlapan

2006

Read Full Post »

Didadaku, yang sudah bolong-bolong ini. Hampa dan terombang ambing oleh kenyataan. Ya, diantara relung yang gelap dan lembab di hati ini. Berlumuran lubang yang menganga. Berdiri terdiam dan kadang berjalan sempoyongan. Sosok yang kian renta oleh dendam akan rindu yang terkenang.

Andai sesuatu terjadi. Menggurat bersama seiring hati dan fikiran berlabuh dikenyataan. Di musim dingin ditempat tropis ini. Hujan yang kian menggariskan kenyataan bahwa sesungguhnya hati seseorang yang sedang berjalan ditengah hujan lebat belum juga sembuh dengan luka yang begitu parah. “Bertahun-tahun aku terdampar ditempat ini. Ditempat dimana kenyataan seperti semu. Lahiriah suram oleh kenyataan yang maya. Yang terdiam dibatin dan fikiran yang rentan dan goyah”.

Sosok lelaki kurus dan pucat. Dengan bibir terkatup terdiam di bawah pohon harapan. Tak sanggup memanjat harapan-harapan yang menunggu dicabang-cabang lain. Dia hanya terfokus, oleh satu ranting terjal kecil yang sebenarnya sudah mulai tua dan menguning. Tapi ranum dimatanya yang sendu begitu tajam. Tetap memilih ingin memetiknya. Karena itu bagian dari harapannya. Akan sebuah kesempurnaan dari ciptaannya.
I’m still living for tomorrow…. Menyayat hatinya.

Read Full Post »

RINDU SUNYI

Pagi yang tenang
Disaat dingin berair hujan
Sendu dan rindu menggapai waktu
Memanggil di kesenyepan

Jalan ini, rimbun daun yang berjatuhan.
Dikaki musim yang kian terjal
Menyimpan sepi harapan

Aku tak mau engkau tersipu,
Dipagi buta tanpa cahaya surya
Di kedinginan yang menembus sumsum tulang kita

Biarlah engkau disana, diujung tatapan khayalku
Biarlah rindu ini yang akan terus mengunjungimu

Disetiap waktu, menembus kabut dan sergap milyaran rintik hujan.
Untuk sekedar menyapamu,

Dengan bahasa sunyi

Read Full Post »

Mungkin engkau sedang termangu, dengan lipatan kedua tangan didada. Berdiri menatap kedepan.
Kearah dimana hujan menjadi gurat pembatas antara aku dan engkau.
Rintik yang samar seperti jarum-jarum kecil yang jatuh menembus bumi. Menjadikannya tumbuh subur kerinduan yang membuncah.

“Tak ada tatapan yang sempurna”, demikian engkau bergumam.

Sedang aku masih juga berdiri di depanmu dengan jarak berjuta meter, menyaksikan rintik yang terus menghalangi ingatan akan keindahan yang pernah ku bayangkan.
Andai saat ini, di suasana pagi yang dingin ini, engkau terbangun dari tidur semalam kemudian menyediakan kopi pahit untukku…

Kapankah itu sayang?
Kabut rindu ini terus menyelimuti hati yang kian beku ini?

2009

Read Full Post »

(Mbah Dukun tolong lihat Jodohku…. karena Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat.)

Sayang, aku adalah Arjuna Yang Mencari Cinta, Semestinya Kita akan Selalu Bersamamu, Aku Takkan Memiliki dirimu. Mungkin ini Mimpi Yang Sempurna, ketika Seputih Hati yang Indah Kuingat Dirimu.

Terserah Kamulah, Hidupku ‘kan Damaikan Hatimu. Ini bukanlah Janji Diatas Ingkar sehingga apapun Tentang Seseorang, aku tetap Tak Bisa Ke Lain Hati.

Saatnya Waktu Yang Tepat Untuk Berpisah, Pengabdian Cinta yang telah lama Aku Menunggumu Seribu Tahun Lamanya, membuat Aku & Bintang saja yang menjadi Teman Hidup ku.

Seberapa Pantas Suara Hati Seorang Kekasih Bila Kau Tak Disampingku, seperti Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Seandainya Aku Bisa Memilih, Semua Tentang Kita seperti Topeng, Tak Ada Yang Abadi. Kau Yang T’lah Pergi menjadi Sobat yang Setia seperti Kau Dan Ibumu.

Saat Aku Lanjut Usia, biarlah Tenda Biru itu adalah Pengalaman Pertama dalam Mistikus Cinta kita. Demikianlah Cinta Adalah Misteri, yang membuat Sementara Kita Berpisah

Salam Perpisahan…

Read Full Post »

Sia-sia sujud waktu terhitung
Dilempari cahaya dan bayangan
Menapaki janji-janji berulang
Tak akan diam!

Bahasamu ruh terluar dalam atmosfir kerelaan
Tepiskan kekhusuan yang rentan
Ditumbuk aliran keakuan
Tak akan diam!

Dipertengahan bayangan
Cahaya memancar ke palung terdalam
Menusuk atap kesucian yang diciptakan
Tak akan diam!

Sementara ubun-ubun tertikam
Sementara api terpadamkan
Sementara semua hilang
Tak akan diam!

Ada celah yang terpisahkan
Dari kekhusuan yang masih rentan
Terpancar panas yang menghangatkan

Berputar-putar berkelebat ke altar
Berputar-putar berkelebat ke cermin datar
Berputar-putar berkelebat ke udara
Diam-diam

O, Engkau tidak sendirian

Bandung, 07 Maret 2007

Read Full Post »

Older Posts »